Santri dan Rasa Keterbuaian

 
Semburat fajar menyapa bumi. Mengundang kokok ayam bersenandung ria bersama alunan adzan penggugah jiwa. Membangunkan mereka yang dahaga dengan rahmat Ilahi. Suatu anugerah dapat disapa olehnya lagi.
Langit Anjani berseri. Santriwan-santriwati telah berbaris rapi di shaf-shaf masing-masing. Tidak ada pemandangan yang jauh lebih indah dibandingkan dengan menyaksikan malaikat penghuni bumi itu. Khusyuk. Berbusana serupa. Putih-putih. Memuja dan memuji. Dzat Yang Memberkati.
Kalau pun ada kahyangan di bumi, di Masjid Jami' Ma'had Darul Qur'an wal Hadits inilah kahyangan itu. Cobalah datang saksikan sendiri. Tidaklah berlebihan Pernyataan ini. 
Shalat telah selesai ditunaikan. Tibalah saatnya pencerahan. Penerang jiwa yang mungkin saja masih berada dalam kegelapan.
Tuan Guru mengambil kitabnya. Al-Hikam. Karya Imam Ibnu Atha'illah as-Sakandari.
Setelah salam, melayangkan pujian kepada-Nya, serta bershalawat atas Nabi-Nya, penghulu pesantren itu berujar: “Anak-anakku. Santriwan-santriwati Ma'had Darul Qur'an wal Hadits yang aku cintai, beberapa hari yang lalu, aku telah menyuruh salah seorang teman kalian untuk mempersiapkan diri. Menyampaikan kalimat hikmah yang ditulis Imam Ibnu Atha'illah as-Sakandari.
“Untuk itu, aku ingin lihat hasilnya. Sebab, mulai dari sekarang, setiap sepekan sekali, ada satu di antara kalian yang akan aku tunjuk untuk maju menguraikan kitab al-Hikam ini. Ini sebagai latihan sebelum kalian terjun langsung di masyarakat."
Pasukan serba putih itu serempak berbisik. Menggeming dengan rekan-rekan terdekatnya. Seolah menunjukkan kesetujuan. Atau bahkan ketidaksetujuan atas rencana sang Tuan Guru.
“Ilham, silahkan maju,” perintah Tuan Guru.
Santriwan yang dipanggil namanya itu berdiri. Semua pasang mata tertuju padanya yang berada di ujung kiri shaf tengah. Ia melangkah perlahan ke depan. Melewati beberapa shaf di depannya. 
Empat hari ini, ia tidak nyenyak tidur malam. Ilham berusaha sedemikian keras untuk mempersiapkan diri. Mengindahkan titah Tuan Guru. Beruntung, ada seorang sahabat yang menyarankan dia untuk membaca novel Ketika Cinta Bertasbih II. Karya Habiburrahman el-Syirazi, yang biasa di sapa Kang Abik. 
Kata sang sahabat, dalam novel fiksi itu ada penjelasan dari salah satu kalimat hikmah yang ditulis Imam Ibnu Atha'illah as-Sakandari. Maka, dalam empat hari ini, Ilham berusaha keras menghafal penjabaran Khairul Azam mengenai kitab al-Hikam dalam karya novelist lulusan Universitas Cairo, Mesir itu. 
Setibanya di dekat Tuan Guru, Ilham duduk. Bersila. Kemudian menerima kitab al-Hikam yang disodorkan Tuan Guru. 
Ilham memulai dengan salam. Kalimat pujian. Shalawat ke atas sang suri tauladan. Lalu melibas sahabat seperjuangan di hadapannya dengan pandangan. Ia mulai menguasai keadaan. 
“Sahabat fillah,” sapanya. Izinkan saya membacakan satu kalimat hikmah yang ditulis Imam Ibnu Atha'illah as-Sakandari dalam kitabnya ini. 
“Beliau menuturkan, 'Laisa al Mutawadhi'u al-ladzi idza tawadha'a ra'a annahu fauqa ma shana'.’ 
“Artinya, bukanlah orang yang tawadhu' atau merendahkan diri, seseorang yang jika merendahkan diri merasa dirinya di atas yang dilakukannya. 
“Misalnya: ada orang merasa tawadhu' dengan duduk di belakang suatu majlis, tapi pada saat yang sama, ia merasa tempat yang pantas bagi dirinya adalah di atas itu, yaitu duduk di bagian depan majlis itu. Maka orang seperti ini menurut Ibnu Athaillah as-Sakandari bukanlah orang yang tawadhu'. Tetapi, orang yang sombong. 
“Atau misalnya: ada orang merasa tawadhu', merasa telah merendahkan diri dengan datang ke suatu tempat menggunakan sepeda, tapi dia merasa dirinya sebenarnya pantas di atas itu yaitu dengan menggunakan motor. Maka orang seperti ini bukan orang yang merendahkan dirinya, tapi orang yang sombong. 
"Lalu siapakah orang yang benar-benar tawadhu’ itu? 
"Ibnu Athaillah menuliskan di baris selanjutnya: Wa lakin al-mutawadhi' ra'a annahu duna ma shana'a. 
“Artinya, tetapi orang yang benar-benar merendahkan diri adalah orang yang jika merendahkan diri merasa bahwa dirinya masih berada di bawah sesuatu yang dilakukannya. 
“Misalnya: ada orang yang dipaksa duduk di bagian agak depan suatu majelis, ia akhirnya duduk di bagian agak depan, tapi ia merasa sesungguhnya dirinya lebih pantas duduk di belakang. 
“Atau misalnya di masyarakat ada orang yang dimuliakan dan dihormati banyak orang, ia selalu merasa dirinya, sejatinya belum pantas menerima penghormatan seperti itu. Itulah orang yang tawadhu’.
Ilham menarik nafas. Kemudian melanjutkan: “Sahabat fillah, Rasulullah adalah teladan bagi orang berakhlak mulia. Beliau makhluk Allah paling mulia namun juga orang paling tawadhu' dalam sejarah ummat manusia. Sejak muda Rasulullah selalu merendahkan' dirinya.
"Contoh yang menggetarkan jiwa kita adalah beliau sama sekali tidak risih menjadi pengembala kambing. Dengan mengembala kambing, beliau tidak hanya merendahkan diri pada manusia, juga pada binatang. Beliau tidak canggung hidup di tengah-tengah kambing yang bau dan kotor. Beliau menjaga dan melayani kambing dengan penuh kasih sayang. Jika ada kambing yang melahirkan beliau membantu persalinannya. Tidak ada jarak antara beliau dengan kambing yang digembalakarmya. Rasulullah tawadhu' tidak hanya pada manusia juga pada binatang ternak yang digembalakannya.
"Contoh sifat tawadhu' Rasulullah yang lain adalah beliau masih mau memakan makanan yang jatuh ke tanah. Dapat kita baca dalam Sirah Nabawiyyah bahwa setiap ada makanan jatuh ke tanah, Rasulullah Saw. tidak membiarkannya. Beliau pasti mengambilnya dan mem-bersihkannya. Beliau membuang kotoran seperti debu yang menempel padanya lantas memakannya. Beliau selalu menjilati jari-jarinya setelah makan. Beliau tidak merasa risih akan hal itu sama sekali.
"Para sahabat nabi juga menghiasi dirinya dengan sifat merendahkan diri. Suatu hari Ali bin Abi Thalib membeli kurma satu dirham dan membawanya dalam selimutnya. Saat itu Ali bin Abi Thalib adalah khalifah yang memimpin ummat Islam seluruh dunia. Ada seorang lelaki melihatnya dan berkata padanya, 'Wahai Amirul Mu'minin, tidakkah kami membawakannya untukmu?' Ali menjawab dengan merendahkan diri, 'Kepala keluarga lebih berhak membawanya.'”
Ilham menjeda. Menatap ke depan. Memandang sahabat seperjuangan seolah jamaah pengajiannya. Lalu melanjutkan lagi: “Sahabat fillah, sejarah membuktikan hancurnya seseorang juga hancurnya suatu bangsa di antaranya adalah kesombongan dan kecongkakan yang dilestarikan. Seorang ulama menjelaskan hakekat sombong adalah jika seseorang merasa pantas dibesarkan padahal sejatinya tidak pantas. Jika seseorang merasa pantas menempati suatu derajat padahal ia belum pantas. 
"Bangsa kita ini akan bisa binasa jika masih banyak orang-orang yang sombong. Bahkan sombong yang telah membudaya. Misalnya, ada seorang yang masuk Fakultas Kedokteran dengan membayar uang yang berjuta-juta rupiah jumlahnya kepada pihak universitas. Ia tetap memaksakan diri masuk Fakultas Kedokteran, ia merasa pantas. Padahal sejatinya ia tidak pantas. Nilainya masih kurang. Tapi ia merasa pantas karena memiliki uang. Kepantasan itu bahkan ia beli dengan uang. Ia tidak hanya sombong. Lebih sombong lagi, ia membiayai kesom-bongannya itu. Maka yang akan jadi korban selain dirinya sendiri ya bangsa ini. Akan muncul di negeri ini nanti ribuan dokter yang tidak tahu apa-apa. Sehingga malpraktek ada di mana-mana.
"Juga, banyak orang merasa layak jadi pemimpin. Merasa layak jadi negarawan yang mengatur bangsa. Padahal mengatur diri sendiri saja tidak bisa. Mengatur keluarganya saja tidak bisa. Tapi ia merasa layak ditinggikan sebagai pengatur negara. Sesungguhnya yang mendorong itu semua adalah kesombongannya. Maka, jika sudah demikian, hukuman dari Allah tinggal ditunggu kapan datangnya. 
“Wallahu a'lam bishshawab.”
Tuan Guru terpukau. Sahabat seperjuangan ikut terpukau. Ilham sukses menyihir mereka. Padahal mereka tidak tahu, ia setengah mati menghafal apa yang ia terangkan tadi. 
*** 
Subuh itu, Ilham telat bangun. Terlepas dari titah Tuan Guru membuat ia abai. Terbuai dengan pujian kawan seperjuangan. Ia biarkan hatinya dimasuki rasa ujub.
Santri muda itu masbuk. Ia masuk di shaf paling belakang. Ketika imam selesai melafazh salam, ia berdiri. Menyempurnakan rakaatnya yang kurang.
Tuan Guru selesai membaca doa. Sesepuh pondok pesantren Darul Qur’an wal Hadits itu membalikkan badan. Seperti biasa, upaya untuk menjaga tradisi pesantren, selepas shalat subuh dilanjutkan dengan kajian kitab-kitab klasik.
Ilham yang berada di shaf paling belakang, kemudian mengambil ancang-ancang untuk berpindah shaf. Ia menempatkann dirinya pada shaf kedua terdepan. Di ujung kanan. Tuan Guru menyaksikan apa yang Ilham lakukan. Ia lalu tersenyum.
“Anak-anakku, santriwan dan santriwati yang aku sayangi,” ujar Tuan Guru yang diawali dengan mengucap salam, melafazh hamdalah, dan melayangkan shalawat kepada sang suri tauladan. “Allah berfirman dalam surah as-Shaff ayat dua dan tiga. Bunyinya: ‘Yaa ayyuhal ladzi na'aamanu lima taquuluuna maa laa taf'aluun. Kaburo maqtan ‘indaLlahi an taquuluu maa laa taf'aalun.’
“Adapun artinya: hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Itu sangatlah dibenci di sisi Allah, jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan.
“Apa maknanya?” Tuan Guru kemudian menjabarkan makna ayat yang dibacanya.
Ilham merasa tersindir. Mukanya pucat mendengar uraian Tuan Guru yang menyentil penjelasannya tentang kerendahan diri dengan apa yang baru saja ia lakonkan. Walaupun sentilan Tuan Guru tidak secara langsung mengenainya, namun ia merasa terhantam dengan sentilan itu.
Ilham mengakui, dirinya telah berbuat keliru. Ia tidak semestinya memaksakan diri untuk memposisikan dirinya di shaf kedua. Padahal awalnya ia berada di shaf paling belakang. Santri muda itu kemudian beristighfar dalam hati. Ia tertunduk lesu. Tak berani menatap wajah wibawa Tuan Guru.
“Jadi, mengajak orang untuk berbuat kebajikan itu adalah hal yang terpuji. Namun, suatu kebencian di sisi Allah jika kita yang mengajak, justru tidak mengerjakan kebaikan itu, tutup Tuan Guru mengakhiri kajian subuhnya.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mimpi Tak Tergapai

Sebulan Dini Hari

Senandung Rantau