Santri dan Rasa Keterbuaian
Semburat fajar menyapa bumi. Mengundang kokok ayam bersenandung ria bersama alunan adzan penggugah jiwa. Membangunkan mereka yang dahaga dengan rahmat Ilahi. Suatu anugerah dapat disapa olehnya lagi. Langit Anjani berseri. Santriwan-santriwati telah berbaris rapi di shaf-shaf masing-masing. Tidak ada pemandangan yang jauh lebih indah dibandingkan dengan menyaksikan malaikat penghuni bumi itu. Khusyuk. Berbusana serupa. Putih-putih. Memuja dan memuji. Dzat Yang Memberkati. Kalau pun ada kahyangan di bumi, di Masjid Jami' Ma'had Darul Qur'an wal Hadits inilah kahyangan itu. Cobalah datang saksikan sendiri. Tidaklah berlebihan Pernyataan ini. Shalat telah selesai ditunaikan. Tibalah saatnya pencerahan. Penerang jiwa yang mungkin saja masih berada dalam kegelapan. Tuan Guru mengambil kitabnya. Al-Hikam. Karya Imam Ibnu Atha'illah as-Sakandari. Setelah salam, melayangkan pujian kepada-Nya, serta bershalawat atas Nabi-Nya, penghulu pesantren itu berujar: “An...