Postingan

Menampilkan postingan dari 2018

Santri dan Rasa Keterbuaian

Gambar
  Semburat fajar menyapa bumi. Mengundang kokok ayam bersenandung ria bersama alunan adzan penggugah jiwa. Membangunkan mereka yang dahaga dengan rahmat Ilahi. Suatu anugerah dapat disapa olehnya lagi. Langit Anjani berseri. Santriwan-santriwati telah berbaris rapi di shaf-shaf masing-masing. Tidak ada pemandangan yang jauh lebih indah dibandingkan dengan menyaksikan malaikat penghuni bumi itu. Khusyuk. Berbusana serupa. Putih-putih. Memuja dan memuji. Dzat Yang Memberkati. Kalau pun ada kahyangan di bumi, di Masjid Jami' Ma'had Darul Qur'an wal Hadits inilah kahyangan itu. Cobalah datang saksikan sendiri. Tidaklah berlebihan Pernyataan ini.  Shalat telah selesai ditunaikan. Tibalah saatnya pencerahan. Penerang jiwa yang mungkin saja masih berada dalam kegelapan. Tuan Guru mengambil kitabnya. Al-Hikam. Karya Imam Ibnu Atha'illah as-Sakandari. Setelah salam, melayangkan pujian kepada-Nya, serta bershalawat atas Nabi-Nya, penghulu pesantren itu berujar: “An...

Rangkak Harap

Gambar
  Malam. Tamaram. Samar kulihat wajah keriput-pucat milik Cut Nyak Din masa kini itu. Hanya ada Lentera minyak sumber pencahayaan pada ruang pengap bersaput asap hitam yang timbul darinya. Mantap. Malam ini akan aku sampai berita gembira padanya. Bahwa bersama kesukaran itu, ada seribu satu warna kemudahan untuk mengindahkannya. “Dendeq de khawatir, inaq. Allah telah memberi satu warna pada kita untuk mencerahkan buramnya kesukaran itu. Masih tiang mauq lanjut, in sya Allah.” “Mbe lekan bi mauq kepeng buatmu bayar SPP?” “Alhamdulillah, ada celah dari kampus.” “Tetu ke?” ***  Undangan. Lebih tepatnya kepastian. Bisakah aku merangkak atau tidak? Aku tak hadiri. Bukan karena tak berselera. Sebab adanya selembar kertas koran yang terlempar-lempar. Jatuh ke tangan satu. Dibuang. Kemudian dipungut tangan lain. Bukan. Tapi, karena ada unsur yang melarangku mendatanginya. ***  “Nanti, sebelum pemberangkatan, sisanya akan dibagi.” “Boleh, saya bicar...