Postingan

Sebulan Dini Hari

Gambar
Aku tak salahkan Tuhan, juga ketetapan-Nya. Aku yang memang terlalu bodoh. Mengharap sesuatu melampaui batas kewajaran. Mengingi n sesuatu yang kata orang, tak semestinya aku genggam. Dan pada akhirnya hanya menjadi angan yang membuat hidupku semisal suram. Sebulan bukanlah waktu yang sedikit buatku untuk meneguhkanmu, meyakinkan diri bahwa kamulah orangnya. Dini hari, sebelum fajar menyapa bumi, kupaksa tubuh lenaku untuk kembali memperkokoh keyakinan itu, menjaga rasa indah yang ditanam Sang Ilahi di jiwa ini. Berharap rasa itu takkan dihapuskan-Nya. Bermunajat agar rasa yang tengah kukecap juga dianugerahkan kepadamu. Benar saja. Keyakinan itu begitu mantapnya setelah sebulan berlalu tanpa kulewati waktu dini hari untuk merayu. Tak kuperduli kabar orang yang mengatakan bahwa dirimu sudah ada yang punya. Aku juga tidak memungkiri akan hal itu. Tetapi kembali, keyakinanku akan dirimu telah melampaui batas kewajaran. Bahwa dirimu pada akhirnya, kan berakhir padaku jua. K...

Santri dan Rasa Keterbuaian

Gambar
  Semburat fajar menyapa bumi. Mengundang kokok ayam bersenandung ria bersama alunan adzan penggugah jiwa. Membangunkan mereka yang dahaga dengan rahmat Ilahi. Suatu anugerah dapat disapa olehnya lagi. Langit Anjani berseri. Santriwan-santriwati telah berbaris rapi di shaf-shaf masing-masing. Tidak ada pemandangan yang jauh lebih indah dibandingkan dengan menyaksikan malaikat penghuni bumi itu. Khusyuk. Berbusana serupa. Putih-putih. Memuja dan memuji. Dzat Yang Memberkati. Kalau pun ada kahyangan di bumi, di Masjid Jami' Ma'had Darul Qur'an wal Hadits inilah kahyangan itu. Cobalah datang saksikan sendiri. Tidaklah berlebihan Pernyataan ini.  Shalat telah selesai ditunaikan. Tibalah saatnya pencerahan. Penerang jiwa yang mungkin saja masih berada dalam kegelapan. Tuan Guru mengambil kitabnya. Al-Hikam. Karya Imam Ibnu Atha'illah as-Sakandari. Setelah salam, melayangkan pujian kepada-Nya, serta bershalawat atas Nabi-Nya, penghulu pesantren itu berujar: “An...

Rangkak Harap

Gambar
  Malam. Tamaram. Samar kulihat wajah keriput-pucat milik Cut Nyak Din masa kini itu. Hanya ada Lentera minyak sumber pencahayaan pada ruang pengap bersaput asap hitam yang timbul darinya. Mantap. Malam ini akan aku sampai berita gembira padanya. Bahwa bersama kesukaran itu, ada seribu satu warna kemudahan untuk mengindahkannya. “Dendeq de khawatir, inaq. Allah telah memberi satu warna pada kita untuk mencerahkan buramnya kesukaran itu. Masih tiang mauq lanjut, in sya Allah.” “Mbe lekan bi mauq kepeng buatmu bayar SPP?” “Alhamdulillah, ada celah dari kampus.” “Tetu ke?” ***  Undangan. Lebih tepatnya kepastian. Bisakah aku merangkak atau tidak? Aku tak hadiri. Bukan karena tak berselera. Sebab adanya selembar kertas koran yang terlempar-lempar. Jatuh ke tangan satu. Dibuang. Kemudian dipungut tangan lain. Bukan. Tapi, karena ada unsur yang melarangku mendatanginya. ***  “Nanti, sebelum pemberangkatan, sisanya akan dibagi.” “Boleh, saya bicar...

Senandung Rantau

Gambar
  Manusia boleh berencana, namun yang tetap menentukan rencana itu terlaksana atau tidak hanyalah Dia. Dia yang Maha Bijaksana lagi Maha Segala. Yang menciptakan jagat alam semesta tanpa bantuan sesiapa.  Di bawah pohon kelapa sawit, aku duduk termenung. Memandang hamparan kelapa sawit yang terhampar luas di hadapan. Karena memang sudah menjadi kebiasaan, seusai bekerja, aku mencari tempat berteduh. Mengeringkan peluh yang membasahi tubuh. Duduk, lalu merenung sembari menunggu jemputan pulang datang.  Tekad membawaku ke sini. Di negeri asing yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, aku akan menginjakkan kaki di sini.  Awalnya aku ragu, bimbang, bahkan takut. Tapi aku nekad. Nekad untuk merubah takdir Allah. “Karena dengan tekad yang disertai ikhtiar dan doa, takdir bisa diubah,” kata orang.  Tekad itu, aku wujudkan. Pindah dari takdir Allah yang dekat ke takdir Allah yang jauh. Dari Indonesia merantau ke Malaysia. Berbekal tekad dan keyakinan. Berhar...

Mimpi Tak Tergapai

Gambar
Aku ikhlas engkau bukan milikku. Meski sedaya upaya akan aku lakukan untuk meraihmu, namun jika engkau bukan yang tertulis untukku, aku pasrah. Engkau datang membawa surat yang kutulis untukmu. Surat yang pertama dan mungkin yang terakhir dariku. Surat yang kutulis dengan harapan engkau bisa aku sunting menjadi istri sekaligus ibu dari anak-anakku kelak. Tapi mungkin dasarnya engkau tidak dicipta dari tulang rusukku. Aku pasrah saja. Toh bagi seorang pencinta, kebahagiaan orang yang dicinta merupakan kebahagiaannya juga. Pun sebaliknya, kesengsaraan orang yang dicinta merupakan kesengsaraan untuknya pula. Engkau telah di-khitbah. Ya telah dilamar oleh sahabatku sendiri. Aku tahu itu dari surat balasan yang engkau kirim lewat sepupumu kemarin petang. Maka betapa zholimnya aku, jika aku mencoba meng-khitbahmu di atas khitbah sahabatku yang lebih dulu meng-khitbahmu. Engkau duduk bersebelahan dengan sepupumu yang kemarin petang memberiku surat balasan darimu. Kedatanganmu menem...