Sebulan Dini Hari





Aku tak salahkan Tuhan, juga ketetapan-Nya. Aku yang memang terlalu bodoh. Mengharap sesuatu melampaui batas kewajaran. Mengingin sesuatu yang kata orang, tak semestinya aku genggam. Dan pada akhirnya hanya menjadi angan yang membuat hidupku semisal suram.
Sebulan bukanlah waktu yang sedikit buatku untuk meneguhkanmu, meyakinkan diri bahwa kamulah orangnya.
Dini hari, sebelum fajar menyapa bumi, kupaksa tubuh lenaku untuk kembali memperkokoh keyakinan itu, menjaga rasa indah yang ditanam Sang Ilahi di jiwa ini. Berharap rasa itu takkan dihapuskan-Nya. Bermunajat agar rasa yang tengah kukecap juga dianugerahkan kepadamu.
Benar saja. Keyakinan itu begitu mantapnya setelah sebulan berlalu tanpa kulewati waktu dini hari untuk merayu.
Tak kuperduli kabar orang yang mengatakan bahwa dirimu sudah ada yang punya. Aku juga tidak memungkiri akan hal itu. Tetapi kembali, keyakinanku akan dirimu telah melampaui batas kewajaran. Bahwa dirimu pada akhirnya, kan berakhir padaku jua.
Kejadian itu. Ah, kejadian itu semakin menambah keyakinanku. Senyummu kala itu tak mampu kubahasakan dengan kekata para pujangga.
Aku percaya bahwa tidak ada sesuatu yang kebetulan. Sehelai daun kering jatuh menggugur, misalnya. Mendarat di aliran sungai. Terbawa arus dan melambat di sebuah muara. Hingga akhirnya terkubur di dasar muara sungai, semuanya telah ada rumusannya. Begitu pula kejadian waktu itu.
Masih basah di ingatanku. Kala senja menyapa dedaunan berwarna jingga. Di persimpangan jalan menuju kampus, pandanganku begitu saja mengarah kepadanmu. Dirimu yang saat itu dibonceng teman perempuanmu, juga memandang ke arahku. Dan senyuman itu, ah, sekali lagi tak mampu aku bahasakan.
Seorang sahabat pernah bertanya kepadaku. “Sampai sebegitunya?”
“Iya,” jawabku. “Dan demikianlah seharusnya.”
Aku tetap berbaik sangka. Walaupun beberapa kali aku melihatmu bersama pria yang entah siapa. Aku tidak tahu. Sekali lagi aku tidak perduli, apakah antara dirimu dan pria itu telah ada hubungan atau tidak. Telah kubisikkan dalam jiwa, “pada akhirnya kan berakhir padaku jua.” Jargon itu seolah menjadi musuh keraguanku.
“Kenapa tidak kauutarakan saja padanya,” celetuk seorang sahabat suatu ketika.
“Belum saatnya,” elakku.
Malam itu, setelah enam bulan berlalu, ditambah sebulan dini hariku, aku tiba-tiba saja terpaku. Rasa kecewa menyusup halus, masuk ke dadaku. Sempat beberapa kali aku mengucek mata, memastikan kebenaran yang terpampang di hadapanku. Dan sungguh, ini benar-benar nyata.
Entah? Aku tidak mengerti, kenapa rasa kecewa tiba-tiba menyapaku kini? Padahal dulu, aku tidak perduli.
Dari belakang, aku melihatmu menggandeng seorang pria. Mesra. Memasuki toko buku ternama di bilangan kota Mataram yang hendak kumasuki juga.
Kemana keyakinan diri yang dulu setiap dini hari aku kokohkan? Dimana bisikan jiwa yang menjadi jargon, musuh bagi keraguan? Dua hal itu seakan lenyap seiring bilur bening menjuntai dari pelupuk mataku.[]


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Mimpi Tak Tergapai

Senandung Rantau